Guru Honorer PPPK Bakal Turut Jadi Peserta BPJS TK

Guru Honorer PPPK Bakal Turut Jadi Peserta BPJS TK

Guru Honorer PPPK Bakal Turut Jadi Peserta BPJS TK

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJS TK) bakal menampung dana iuran dari tenaga honorer Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Direktur Utama BPJS TK, Agus Susanto mengakui telah mengetahui rencana tersebut, bahkan telah membicarakannya dengan pemerintah.

“Skema perhitungan iurannya nantinya kemungkinan sama dengan pekerja lain yang menjadi anggota BPJS Ketenagakerjaan. Soal besaran iurannya, saya belum tahu berapa harus dibayarkan para guru honor itu nantinya,” kata Agus dalam rilisnya, Rabu (21/11).

Setelah terjadinya protes berkepanjangan dari para guru dan tenaga kesehatan honorer kategori II, pemerintah akhirnya mempercepat penyelesaian Peraturan Pemerintah tentang Manajemen PPPK. Honorer kategori II adalah status bagi honorer yang bekerja sebelum tahun 2005 dan namun belum kunjung diangkat menjadi PNS. Aturan inilah yang nantinya akan menjadi dasar hukum pengangkatan honorer, yang sebagian besar guru ini, menjadi PPPK.

Sementara lewat PPPK, pemerintah menjanjikan guru honorer di atas usia 35 tahun

dan tidak memenuhi persyaratan seleksi CPNS 2018, bisa tetap mendapat gaji yang sama dengan PNS.

“Hanya saja, guru honorer PPPK ini harus mencari lembaga penampung dana pensiun sendiri. BPJS Ketenagakerjaan adalah salah satu yang ditawarkan pemerintah,” katanya.

Menurut Agus, rencana ini bukanlah hal yang baru bagi lembaganya. Saat ini, ujarnya ada sekitar 850 ribu guru dan dosen honorer yang telah menjadi peserta BPJS TK.

“Mereka yang daftar sendiri, sebagian besar didaftarkan institusi tempat mereka bekerja.

Walau begitu, angka ini masih terpaut jauh karena saat ini, khusus untuk guru honorer, jumlahnya di Indonesia mencapai 1,5 juta orang,” katanya.

Sebagai anggota, Agus menjelaskan empat manfaat yang didapat para guru honorer ini.

Pertama jaminan kecelakaan kerja dengan memperoleh pengobatan sampai sembuh tanpa batasan. Lalu upah selama tidak bekerja dan santunan cacat.

Kedua, yaitu jaminan kematian. Jika kematian akarena kecelakaan kerja, maka santunan kematiannya sebesar 48 kali upah dan satu orang anaknya akan memperoleh beasiswa.

Ketiga, yaitu jaminan hari tua. Menurut Agus, ini semacam tabungan hari tua yang akan diberikan seluruhnya saat guru honorer memasuki usia pensiun. Dan ke empat, adalah jaminan pensiun.

 

Sumber :

https://www.kakakpintar.id/