Hebat, Anak Maluku Cipta Alat Deteksi Kerusakan Jaringan Listrik

Hebat, Anak Maluku Cipta Alat Deteksi Kerusakan Jaringan Listrik

Hebat, Anak Maluku Cipta Alat Deteksi Kerusakan Jaringan Listrik

Akhir-akhir ini media sosial ramai merumorkan penemuan terbaru alat pendeteksi

gangguan jaringan listrik pada sistem instalasi yang ditemukan oleh salah seorang siswa asal Indonesia.

Setelah ditelisik lebih jauh, ternyata peneliti muda yang karyanya mampu meraih penghargaan Internasional ini berdarah Maluku. Lalu siapakah dia anak lelaki yang selama kurung waktu setahun menorehkan catatan gemilang dengan buah karya yang mengejutkan dunia internasional.

Namanya Wahid Hasim Samalo, anak yang berasal dari keluarga sederhana di Negeri Tamilow, Kecamatan Amahei, Kabupaten Maluku Tengah ( Malteng) ini sontak mendapat perhatian dari para peneliti dunia. Keberhasilan Samalo dalam dunia sains berawal pasca dirinya lulus dari Madrasah Tsanawiyah AL Khairat, Kota Jawa Ambon, Provinsi Maluku 2014 lalu.

Potensi besar dan kecerdasan yang ada pada Samalo, kemudian dikembangkan

saat melanjutkan studi di Pondok Pesantren Surya Buana, Surabaya Jawa Timur, di sekolah inilah Samalo mengawali proses untuk mengembangkan temuan yang bersentuhan langsung dengan kemajuan teknologi.

Para pengelola pendidikan di SMA Surya Buana mulai mencium potensi besar dibalik kemampuan anak ini, pada tahun 2014 saat Samalo masih duduk di bangku kelas XI, Dirinya diberikan ruang untuk meneliti selama di sekolah dan mengembangkan potensi dengan menemukan alat pendeteksi kerusakan jaringan pada arus listrik. Karya debutan ini kemudian diikutsertakan dalam Turnamen Sains Internasional yang berlangsung di Thailand .

Dalam even bergengsi itu, alat temuan Samalo ini lalu mengukir prestasi,

beberapa medali emas, dan penghargaan nobel dari beberapa negara pun diberikan atas temuan siswa berdarah Maluku ini Bahkan ia juga mendapat tawaran beasiswa untuk melanjutkan studi di Korea University.

Wahid ini pada mulanya membuat alat yang bisa mendeteksi tegangan dan arus listrik. Namun, ia berinovasi lagi untuk mengembangkan alatnya. Ia mulai merancang alat pendeteksi kerusakan listrik sejak duduk di bangku SMA.

“Saya terinspirasi dari kerusakan listrik di rumah, kalau ada detektor kerusakan akan lebih praktis,” ungkap Samalo.

Alat pendeteksi kerusakan ini juga telah diuji oleh beberapa ahli. Saat di rumah pun ia juga memasang alat ini untuk mendeteksi kerusakan listrik sejak dini. Pelajar kelahiran Ambon ini mengaku ingin membantu orang tuanya mendeteksi kerusakan listrik di rumahnya.

“Di rumah Ayah buka usaha percetakan, kalau ada kerusakan yang tidak diketahui, otomatis pekerjaan akan terbengkalai,” ujarnya.

Menurutnya, alat ini memang diciptakan pada mulanya untuk membantu pekerjaan sang ayah saja. Namun, setelah ia bersekolah di SMA Surya Buana, ia diwadahi oleh pihak sekolah untuk lebih mengembangkan alatnya agar lebih baik.

Pada awalnya dulu alat ini belum sesempurna sekarang. Dulu hanya berupa rangkaian dan belum ada pelindungnya. Setelah dibantu oleh guru, alat ini ia perbaiki agar tampilannya lebih bagus. Selain itu, dulunya tidak ada alarm pada alat deteksi ini. Sekarang, ia telah menambahkan alarm pada alatnya.

Sehingga ketika alat ini dipasang dekat kwh meter, apabila terjadi kerusakan alarm akan berbunyi. Kerusakan pada listrik akan cepat diketahui dengan alat ini. Pada saat perlombaan di Thailand pada awal tahun 2015 ia berhasil membawa pulang medali. Tak hanya itu, ia juga mendapatkan penghargaan atas inovasinya di bidang kelistrikan. Sebagai anak yang usianya masih muda ia telah berhasil memukau para juri di Thailand.

Selain itu, ia juga pernah mendapatkan penghargaan spesial dari Malaysia atas inovasinya. Bahkan dari Kroasia, ia juga berhasil mendapatkan medali emas dan baru-baru ini juga mendapatkan penghargaan dari Kroasia atas prestasi yang telah diraihnya. Pembina Yayasan Surya Buana, Sri Istuti Mamik pada dasarnya ingin mengurus hak paten atas alat deteksi milik Wahid ini.

Menurutnya, hak paten atas alat ini diperlukan agar alat ini tidak ditiru oleh pihak lain. Karena sudah banyak pihak yang ingin membeli alat ini. Saat ia mengikuti pameran teknik di Korea Selatan, alat ini sempat ingin dibeli oleh tim dari Jepang, namun ia menolak. “Ini karya saya, kalau mau beli nanti saja kalau sudah diproduksi massal,” ungkap lelaki berkacamata.

Siswa sekaligus santri di Pondok Pesantren Surya Buana ini tidak selalu mendapatkan keberhasilan. Pada awal menciptakan alat deteksi kerusakan listrik ini ia kesusahan mencari bahannya. Di samping itu, pengetahuan yang ia dapatkan di sekolah menurutnya masih belum cukup untuk menyempurnakan alat ini.

Ia dibantu oleh salah satu guru karya ilmiah di SMA Surya Buana, Mardiyah, untuk menyusun alat ini. Mardiyah membantu Wahid untuk menentukan teori apa yang akan dipakai pada alatnya.

“Teori alat yang saya terapkan untuk membuat alarm pada alat saya ini, dibantu oleh Bu Mardiyah,” ungkap santri asal Ambon.

Alarm dipasang agar kerusakan listrik dapat dengan mudah diketahui. Bahkan setelah disempurnakan, alat ini menurutnya lebih sensitive. Ketika listrik berjalan dengan kecepatan sangat rendah, alat ini akan mendeteksi apa yang sedang terjadi pada arus maupun tegangan listrik tersebut.

Wahid ingin alatnya dapat diproduksi secara massal. Karena menurutnya alat akan semakin berfungsi jika dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Namun, usahanya untuk memproduksi alat ini secara massal masih terkendala biaya. Kalaupun ada perusahaan atau sponsor yang bersedia memberikan dukungan finansial kepadanya, ia bersedia memproduksi alat ini dengan jumlah yang cukup banyak.

Berkat prestasi gemilang yang diraihnya, Anak Maluku mendapatkan tawaran dari beberapa universitas untuk melanjutkan studinya secara gratis. Salah satunya adalah Korea University.

Ia mengaku pada bulan Agustus 2016 mendatang ia akan mengikuti pameran di Korea sekaligus mendaftarkan diri sebagai calon penerima beasiswa di Korea University. Ia ingin membuktikan pada dunia bahwa warga negara Indonesia juga dapat menciptakan inovasi dalam bidang-bidang tertentu.

 

Sumber :

https://vhost.id/sejarah-singkat-walisongo/