MAKAR JAHAT DI BALIK WAJAH ISHLAH

MAKAR JAHAT DI BALIK WAJAH ISHLAH

MAKAR JAHAT DI BALIK WAJAH ISHLAH

Ishlah itu maknanya ialah melakukan upaya kebaikan dan perbaikan di kalangan manusia pada umumnya dan di kalangan kaum Muslimin pada khususnya. Fitrah manusia amat senang dengan apa yang dinamakan ishlah . Karena itu, setiap ada pernyataan atau simbul dan seruan ishlah , akan mendapat dukungan serta simpati dari kebanyakan orang. Dan dengan alasan inilah, orang-orang munafiq dalam upaya menutupi makar jahatnya selalu berkamuflase dengan penampilan sebagai orang-orang yang berkeinginan untuk ishlah . Manuver penipuan yang mereka lakukan terhadap Ummat Islam dengan berkedok ishlah , telah diceritakan oleh Allah Ta`ala dalam firman-Nya:

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, jangan kalian membikin kerusakan di muka bumi. Mereka (membalas nasehat itu dengan) mengatakan: Hanyalah kami ini adalah orang-orang yang mengupayakan ishlah . (Allah pun membantah pernyataan mereka dengan menyatakan:) Ketahuilah sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang membikin kerusakan di muka bumi, akan tetapi mereka tidak merasa.” ( Al-Baqarah : 11 – 12)

Al-Imam Ibnu Jarir At-Thabari rahimahullah menerangkan tafsir bagi ayat ini sebagai berikut: “Dan membikin kerusakan di muka bumi maknanya ialah: Melakukan padanya apa-apa yang dilarang oleh Allah dan menelantarkan apa-apa yang diperintahkan oleh-Nya untuk dijaga baik-baik. Maka yang demikian itu adalah pengrusakan yang total.” ( Tafsir At-Thabari , Al-Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir At-Thabari, jilid 1 hal.159)

Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Anshari Al-Qurthubi dalam tafsir beliau Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an jilid 1 hal. 178 membawakan keterangan Thawus bin Kisan, seorang Imam dari kalangan Ta’biin, sebagai berikut: “Ibnu Kisan telah berkata: Orang yang tidak mengerti bahwa perbuatannya itu merusak, tidaklah tercela dengan perbuatannya itu. Yang dicela itu hanyalah orang yang mengerti bahwa dia membuat kerusakan, kemudian dia terus-menerus membuat kerusakan itu dalam keadaan mengerti bahwa dia melakukan kerusakan (demi kepentingan hawa nafsunya, pent). Jadi cercaan Allah terhadap orang munafiq di ayat ini, yang dikatakan oleh-Nya bahwa mereka membuat kerusakan tetapi mereka tidak tahu kalau diri mereka membuat kerusakan, maka pernyataan ini ditafsirkan dengan dua keterangan, yaitu:

1). Mereka melakukan upaya pengrusakan dengan tersembunyi dan menampilkan bahwa diri mereka seolah-olah melakukan ishlah(kebaikan). Mereka tidak merasa bahwa segala makar yang mereka sembunyikan itu telah diketahui oleh Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam (karena diberi tahu oleh Allah).

2). Mereka menganggap bahwa kerusakan yang mereka lakukan adalah dalam rangka ishlah , sementara mereka sendiri tidak merasa bahwa manuver yang mereka lakukan adalah kerusakan. Dan mereka itu dalam keadaan mendurhakai Allah dan Rasul-Nya ketika mereka meninggalkan kewajiban untuk menerangkan kepada manusia tentang kebenaran dan sekaligus mengikuti kebenaran itu.” Demikian Al-Imam Al-Qurtubi menerangkan.

Dari keterangan-keterangan para imam tersebut, kita dapatkan penjelasan bahwa orang-orang munafiq itu melancarkan berbagai makarnya terhadap kaum Muslimin dengan berkamuflase sebagai orang-orang yang membikin upaya ishlah . Penampilan dua muka orang-orang munafiq itu adalah dalam rangka menipu ummat Islam, yaitu dalam rangka menutupi kejahatan mereka yang amat keji. Adapun kejahatan mereka terhadap ummat Islam dalam mendurhakai Allah dan Rasul-Nya ialah:

1). Selalu membikin tipu daya terhadap kaum Muslimin, sebagaimana hal ini diberitakan oleh Allah Ta`ala dalam firman-Nya:

“Dan ada segolongan manusia yang mengaku beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, padahal mereka sesungguhnya tidaklah beriman. Mereka dengan pengakuan dusta itu ingin menipu Allah dan menipu kaum Mu’minin, akan tetapi sesungguhnya mereka itu menipu diri mereka sendiri, sedangkan mereka tidak merasa.” ( Al-Baqarah : 8 – 9).

2). Memperolok-olok dan merendahkan kaum Mu’minin / Muslimin, terutama kaum Mu’minin generasi Shahabat dan Tabi’in serta para Ulama’ Ahlul Hadits. Hal ini sebagaimana yang diterangkan oleh Allah Ta`ala dalam firman-Nya:

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kalian seperti berimannya para Shahabat Nabi.” Mereka pun menjawab: “Apakah kami ini disuruh beriman seperti cara berimannya orang-orang yang dungu.” (Allah menjawab ejekan mereka dengan menyatakan:) “Ketahuilah sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang dungu, akan tetapi mereka tidak mengerti.” ( Al-Baqarah : 13)

3). Menyeru manusia untuk berbuat kemungkaran dan mencegah manusia untuk berbuat kebaikan. Membangkitkan semangat manusia untuk berbuat kemungkaran dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghalangi dan menjegal segala upaya untuk berbuat kebaikan. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta`ala:

“Orang-orang munafiq dari kalangan pria dan wanita, sebagian mereka atas sebagian yang lainnya menyeru kepada kemungkaran dan mencegah berbuat baik dan mereka menahan tangannya untuk bershadaqah. Mereka melupakan Allah, sehingga Allah pun melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafiq itu adalah orang-orang yang fasiq.” ( At-Taubah : 67)

4). Memuji Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam di depan kaum Mu’minin, tetapi di belakang kaum Mu’minin, mereka mendustai dan mengkufurinya. Allah Ta`ala memberitakan kedustaan mereka sebagai berikut:

(artinya) “Apabila datang kepadamu orang-orang Munafiq, mereka menyatakan: “Kami bersaksi bahwa engkau adalah Rasul-Nya (yakni utusan Allah).” Dan Allah bersaksi bahwa engkau adalah Rasul-Nya dan bersaksi pula bahwa orang-orang munafiq itu telah berdusta. Mereka menjadikan sumpah palsu mereka sebagai tameng (untuk menutupi kedustaan mereka) sehingga dengan itu mereka menghalangi manusia dari jalan Allah. Mereka itu amat jahat perbuatannya.” Al-Munafiqun : 1 – 2).

5). Mereka suka memperolok-olok Agama Allah dan membangun hubungan persahabatan erat dengan orang-orang kafir. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta`ala sebagai berikut:

(artinya) “Beri kabar kepada orang-orang munafiq bahwa mereka akan menerima adzab yang pedih. Mereka itu adalah yang menjadikan orang-orang kafir sebagai sahabat kentalnya, dengan tidak menjadikan kaum Mu’minin sebagai sahabat. Apakah mereka itu dengan sikap yang demikian karena mengharapkan kemuliaan di sisi orang-orang kafir, padahal semua kemuliaan itu milik Allah jua. Padahal telah turun kepada kalian kitab, tetapi bila kalian mendengar ayat-ayat Allah, kalian mengingkarinya dan memperolok-olokkannya. Oleh karena itu, kalian kaum Mu’minin, jangan duduk dengan mereka ketika sedang memperolok-olok ayat-ayat Al-Qur’an itu, sehingga mereka berpindah omongan dengan omongan lainnya. Sebab kalau kalian kaum Mu’minin masih duduk dengan mereka ketika mereka memperolok-olok Al Qur’an, maka berarti kalian adalah seperti mereka juga. Sesungguhnya Allah mengumpulkan orang-orang munafiq itu di neraka Jahannam dengan orang-orang kafir bersama-sama.” An-Nisa’ : 138 –140)

Dengan demikian, lengkaplah kedurhakaan orang-orang munafiq dan kejahatannya terhadap Islam dan Muslimin. Segala kejahatan mereka tersebut dianggap ringan oleh banyak orang, karena orang-orang munafiq itu menutupi kejahatannya dengan penampilan sebagai pihak yang sedang mengupayakan ishlah . Sehingga banyak kaum Muslimin terkecoh karenanya, bahkan akhirnya menjadi ujung tombak berbagai manuver jahat para pengkhianat dan penipu itu.

Sumber : https://andyouandi.net/